by

Harga Jual Tinggi, Keberadaan Burung Murai Batu Terancam Punah di Kawasan Lauser, Jantan Dibandrol Rp 5 Juta/ekor, Rp 1 juta, jenis Betina

-Nanggroe-40 views

Harga Jual Tinggi, Keberadaan Burung Murai Batu Terancam Punah di Kawasan Lauser, Jantan Dibandrol Rp 5 Juta/ekor, Rp 1 juta, jenis Betina

LANGSA SATU.COM, PINING- Keberadaan burung jenis Murai Batu (Kittacincla malabarica), masyarakat setempat menyebutnya “Cicem Pala” kini menjadi sulit ditemukan.

Bahkan Murai Batu, disebutkan daftar nama salah satu burung diambang kepunahan di Kawasan Ekosistem Leuser.

Hal itu terjadi diduga, dampak masifnya aksi perburuan burung tersebut. Selain memiliki kicauan (suara) indah, tingginya harga jual menjadi alasan memburu burung itu.

Dilansir laman lauser.com, awalnya burung jenis Murai Batu masuk satwa yang dilindungi.

Namun, berdasarkan peraturan Mentri LHK No 106/Menlhk/Sekjen/Kum.1/12/2018/tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Burung jenis murai batu tidak lagi masuk dalam daftar satwa dilindungi.

Sementara itu, harga jual burung Murai Batu juga terus melejit, seiring semakin sulitnya mendapat burung tersebut.

Pada tahun 2000-an burung Murai batu masih banyak terdapat di kawasan hutan Leuser, khususnya di Kecamatan Pining, Gayo,Lues

Harganya pun saat itu dijual masyarakat berkisar  Rp 500.000 rupiah/ekor untuk yang jantan. Sedangkan betina nyaris kurang diminati terutama para penggemar burung peliharaan.

Sementara itu, Jamian (35) salah seorang warga Pining mengatakan, untuk mendapatkan burung Murai Batu, para pemburu mencarinya dipinggir hutan setempat, ujarnya .

Disebutkan, maraknya pencinta burung serta sulitnya menangkap burung tersebut. Harga burung Murai Batu menjadi naik.

Untuk Burung Murai Batu Jantan sebut Jamian dibandrol seharga Rp 5 juta, sedangkan jenis betina Rp 1 juta.

“Itu belum makan umpan pur, hanya umpan biasa seperti telur semut, kalau udah makan pur, makin naik lagi harganya,” sebut Jamian.

Ia juga mengakui, sekarang ini sulit mencari atau mendapatkan burung jenis Murai Batu di hutan Leuser.

Diterangkan, dirinya berburu burung Murai Batu ke dalam hutan Leuser seraya kemping Kemudian menangkapnya burung tersebut dengan cara menggunakan perangkap, ditambah suara rekaman tape recorder. Pun demikian diakui Jaminan, masih tetap saja sulit untuk mendapatkan burung tersebut.

Masyarakat adat ketika berburu ke dalam hutan masih menerapkan adat lokal, setidaknya dengan melaksanakan tradisi keunduri maupun membakar kemenyan seraya meminta izin masuk ke wilayah hutan tersebut.

Gencarnya perburuan burung dan cara berkembang biak spesies burung itu yakni dua atau tiga sekali bertelur, salah satu penyebab hutan leuser kehilangan kicauan burung yang memiliki suara indah tersebut.

Hutan Pining salah satu hutan di Kawasan Ekosistem Leuser yang hidup beraneka ragam spesies burung, salah satunya burung yang memiliki nilai jual tinggi seperti murai batu, murai daun, dan burung rangkok badak. Namun keberadaannya kian hari, makin terancam dan nyaris diambang kepunahan, pungkasnya.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita