by

Menyaru sebagai Pembeli, Petugas Tangkap Penjual Kulit Harimau di Bener Meriah 

Menyaru sebagai Pembeli, Petugas Tangkap Penjual Kulit Harimau di Bener Meriah

LANGSASATU.COM, BANDA ACEH- Menyaru sebagai pembeli tim gabungan terdiri dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera dan Polda Aceh, di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, berhasil menangkap dua orang pria masing masing inisial D (4)) dan A (41) diduga penjual kulit harimau.

Selain itu, petugas juga turut mengamankan barang bukti selembar kulit harimau.

Kedua orang itu beserta barang bukti diamankan di SPBU Pondok Baru, Kecamatan, Bandar, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, pada Selasa (24/5) sekira pukul 04.30 WIB, kata Subhan, petugas Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera.

Pengungkapan kasus dugaan perdagangan kulit harimau tersebut berawal dari operasi peredaran tumbuhan dam satwa liar Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (Sporc) Brigade Macan Tutul Seksi Wilayah I Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera bersama Polda Aceh.

Bermula, tim mendapat informasi, ada orang menawarkan selembar kulit harimau beserta tulang belulangnya.

Menindaklanjuti informasi, tim lalu melakukan penyamaran dengan cara mengaku sebagai pembeli dan menyepakati harga, lokasi serta waktu transaksi.

Usai kesepakatan dilakukan, di lokasi yang telah ditentukan, tiba tiba muncul tiga orang membawa dan memperlihatkan kulit harimau beserta tulang belulangnya yang hendak dijual.

Saat itu juga, tim langsung menangkap mereka, namun seorang di antaranya inisial I, berhasil melarikan diri.

Kemudian, dua orang berhasil diamankan itu digiring ke Pos Gakkum Aceh di Banda Aceh. Sedangkan yang melarikan diri masih dalam pengejaran, terang Subhan.

Dari hasil gelar perkara terhadap S dan A di Polda Aceh, perlu dilakukan pemeriksaan saksi-saksi tambahan untuk meningkatkan status hukum mereka.

Kedua orang yang ditangkap tersebut, tidak ditahan dan dikembalikan kepada keluarga. Namun, mereka diberlakukan wajib lapor kepada penyidik di Kantor Pos Gakkum Aceh.

Dugaan tindak pidana yang dilakukan sebagaimana diatur Pasal 21 Ayat (2) huruf d jo Pasal 40 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ancaman hukumannya maksimal lima tahun penjara dan denda maksimal Rp100 juta.

Dikatakan Subhan, pihaknya terus mendalami kasus ini guna menetapkan tersangka serta mengungkap siapa aktor intelektual.

Menurutnya, pengungkapan penjualan kulit harimau selain untuk memberi efek jera bagi para pelaku, juga melindungi satwa liar dilindungi undang-undang di Provinsi Aceh, imbuhnya (ant)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Index Berita